Berpetualanglah seluas-luasnya,menulis dan belajarlah sebanyak-banyaknya,cari pengalaman sedalam-dalamnya,bercita-citalah setinggi-tingginya,berdoa dan tawakal sesering-seringnya,kamu akan menemukan dirimu di sana

Ceritalah


Aku menghampirinya, ia sedang memandang jauh dari lantai 2 tempat kami berada saat ini. Berdiri sambil memegang pagar panghalang.
“kenapa?” tanyaku
“engga” jawabnya
“bukan mau bunuh diri kan lo?” tanyaku lagi
“ya engga lah, mati kan di tangan Tuhan. Lagian kalau aku lompat dari sini yang ada malah luka-luka. Rugi dong gue kalau emang niatan mau bunuh diri tapi gagal”
“hahahaha. Bener banget”
“gue tuh lagi bingung. Tapi bingung apa yang gue bingungin”
Aku terdiam sejenak mendengar penjelasannya. Dia sendiri saja bingung dengan apa yang di bingungkan apalagi aku.
“ah lo, bosen gue, perasaan sering banget bilang kaya gitu. Ujung-ujungnya apa? Tetep engga cerita kan?” kataku padanya
“ya udah tinggalin gue sendiri dulu aja. Gue mikir dulu apa yang gue bingungin, apa yang gue khawatirin”
“ya udah, inget jangan bunuh diri ya.hahahaha. Lagian lo tuh keseringan mikir yang engga perlu dipikirin. Gue ke dalem dulu” aku meninggalkannya. Menyelesaikan yang perlu diselesaikan.
Beberapa menit setelah aku berada di dalam terdengar isak tangis dari luar. Siapa lagi kalau bukan sahabatku yang satu itu.
“eh kenapa? Tuh kan lo suka ngagetin gue aja” aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Ia duduk di lantai.
Ia tetap diam dalam tangisnya.
“ya udah tenangin diri dulu aja. Nanti kalau pengen cerita, cerita aja engga usah sungkan. Gue yakin lo bakal cerita kalau lo merasa perlu cerita. Emang engga semua hal perlu di ceritai ke orang. Kadang ada yang perlu di pendem sendiri” paparku sambil mengelus pundaknya.

Aku rasa hanya sedikit sentuhan dan kata penenang cukup sedikit memberi kekuatan. Itu guna nya teman.

Pencapaian- Flash Fiction

     Aku berdiri dari kursi berwarna putih. Putih nya berasal dari kain yang dibalutkan untuk menutupi seluruh bagiannya. Tak tau bagaimana bentuk aslinya. Cantikkah bentuknya atau biasa saja hanya si kain yang tau. Yang kami tau dari kursi itu hanya indah. Iya, indah di pandang seperti yang biasa aku lihat di televisi saat sebuah acara di gelar di hotel mewah. Kini aku dapat merasakannya. Ku langkahkan kakiku ke depan. Berjalan menuju satu titik di atas panggung. Semua mata tertuju pada ku saat itu, aku menjadi pusat perhatian.
“Selamat atas pencapaian anda bu,sungguh luar biasa dapat melebihi target” Pa Teguh sebagai Direktur Utama perusahaan tempatku bekerja, menyalamiku mengucapkan selamat sembari memberi piagam penghargaan. Sejenak kami bertiga berfoto bersama. Aku, Pa Teguh dan kertas tanda penghargaan itu.
     Beberapa saat kemudian MC mengatakan “ tentunya dari sebuah keberhasilan seseorang ada orang di balik layar yang mendukungnya. Saya persilakan kepada Bapak Hari untuk ke depan”
Aku cukup terkejut, tak ku sangka ia hadir di sini. Terima kasih cinta. Suami sekaligus rekan dan sahabat yang selalu ada di sampingku. Mendukung sepenuh hati hingga satu lagi pencapaian dalam hidupku dapat terjadi. Menutupi kekuranganku dengan kelebihanmu. Sama seperti kain putih indah nan lembut yang menutupi kekurangan si kursi yang tidak menunjukkan kelembutannya karena sudut-sudut kursi itu.


Durian di Bulan Ramadhan



        Aku sempat menuliskan kisah ini. Sayangnya tanpa sengaja aku menghilangkannya. Cerita tentang buah yang menyebalkan bagi sebagian orang karena aromanya yang terlalu menusuk dan dianggap busuk. Namun sangat dicintai kalangan lainnya karena kelezatan rasanya. Aku termasuk dalam golongan yang kedua dan aku sangat bersyukur akan hal itu karena aku bisa menikmati salah satu buah yang enak dan lembut di lidah.
        Syukurnya lagi, aku sering mendapatkan buah ini secara cuma-cuma. Mulai dari yang hambar rasanya karena buah sudah jatuh sebelum waktunya ataupun karena musim hujan sehingga rasa buah durian hilang. Atau menikmati buah durian yang dagingnya benar-benar manis dan ukurannya yang besar. Di pekarangan rumah mbah(panggilan untuk kakek saya) di salah satu daerah di Boyolali tumbuh satu pohon yang kuat dan menjulang tinggi, sebuah pohon durian. Entah bagaimana asal-usulnya sehingga pohon itu dapat tumbuh di sana. Karena aku termasuk orang yang sangat suka durian, sampai-sampai aku bercita-cita kelak aku harus memiliki setidaknya satu pohon durian di halaman belakang rumahku. Yang tentunya harus berada di halaman yang cukup luas agar pada saat berbuah nanti, buahnya akan langsung jatuh ke rumput di bawahnya tanpa harus mengenai benda-benda lain di sekitar rumah. Tidak seperti atap depan rumah mbah yang sering tertimpa durian. Dulu paling sedikit setahun sekali aku datang ke rumah mbah di desa. Saat hari raya Idul Fitri tiba. Aku sering menanti saat itu. Saat dimana semua orang mengatakan bahwa hal yang aku lakukan adalah mudik. Karena saat itu pula pohon duriannya berbuah. Entah beberapa tahun silam aku selalu mengira bahwa buah durian akan muncul setiap bulan ramadhan sampai suatu ketika saat ramadhan tiba buah durian itu tak muncul, sampai akhirnya aku bertanya mengapa buah duriannya tidak ada. Saat itu pula aku baru mengetahui bahwa ramadhan selalu berganti tanggal di kalender masehi karena penetapannya berdasarkan perhitungan kalender hijriah dan biasanya musim buah durian akan hadir setelah musim rambutan jadi belum tentu berbuah pada bulan ramadhan. Dan tahun ini di awal tahun 2014 buah durian mulai bermunculan. Selamat menikmati durian untuk anda penggemar durian. 

salam
meriza


kata kunci: durian, ramadhan

Dorong bukan Tarik


sumber gambar: gombakmali.blogspot.com

Cerita ya…..
Anggap aja lanjutan yang jati diri.
Semakin bertambahnya usia semakin bertambah pula tanggung jawab dan berubahnya pola pikir kita.
Semakin berpikir upaya untuk menjalani hidup dalam pijakan kaki sendiri yang kuat. Saat ini kami masih merangkak mencoba berdiri dan jatuh kembali dan terus belajar berdiri. Entah kapan kami akan berdiri dengan siap sambil memandang lurus ke depan.
“Bukan bagaimana tapi mengapa kita harus sukses?” adalah kalimat yang saya dapat dalam sebuah acara. Iya karena pertanyaan bagaimana hanya akan menjawab cara sedangkan pertanyaan mengapa akan menjawab alasan dan dengan sendirinya memunculkan cara sekaligus motivasi.
Ada satu cerita yang saya dapat saat menyaksikan Mario Teguh beliau tanggal lahirnya sama kaya saya loh.hehehehe (terus?) digambarkan ada seorang anak yang terus berupaya sekuat tenaga menarik pintu agar terbuka. Orang-orang di sekitar nya sudah memberi tahu dan berkata “dorong!!” tapi ia menjawab “ah itu hanya teori” atau “ kamu ngomong doang saya nih yang melakukan sulit sekali” disinilah peran dan arti sebuah nasihat. Di pintu jelas tertulis push berarti dorong bukan pull tapi sang anak terus saja menariknya bukan mendorongnya. Ia tidak mendengar saran orang. Jadi saat ingin mencapai kesuksesan kita harus mau mendengar nasihat orang terutama yang lebih berpengalaman.

Semuanya proses,belajar dari setiap proses adalah baik. Saat berproses kita akan menemukan serpihan-serpihan hal yang kita cari.


salam Meriza Lestari

Jati Diri


sumber gambar: mjdb.blogdetik.com
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia jati diri berarti ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda; identitas; .
    Terkadang individu belum paham tentang jati dirinya. Sebut saja saya. Saya tau diri saya ada di dunia ini tentulah ada tujuannya. Kadang saya sering bertanya sesungguhnya apa yang saya cari. Kekayaan? Kesejahteraan? Kedamaian? Kemakmuran? Lalu apa?.
Semua itu memang menjadi cita-cita hidup. Saya yang saat ini berusia 18 tahun memang belum “selesai” dengan diri saya sendiri. Saya masih mencari apa mau saya,bakat,minat,juga cita-cita bidang pekerjaan yang sering berubah seiiring berjalannya waktu. Juga tentang kehidupan setelah mati seperti apa yang akan saya jalani. Hubungan antara makhluk dan Penciptanya.  Mencari dan terus mencari ke dalam diri. Dan belum pernah ada jawaban pasti atas sekian banyak pertanyaan yang diajukan pada diri sendiri, yang sesekali muncul dalam benak. Jujur pada diri sendiri terkadang memang sulit. Membentuk identitas diri juga merupakan tantangan tersendiri karena tidak tercipta hanya dalam sehari-dua hari saja. Identitas diri adalah pertanyaan tentang diri sendiri. Semuanya proses. Sejak lahir identitas kita mulai dibentuk. Tapi akan menjadi bentuk seperti apa kita sendiri lah yang membentuknya.



kata kunci: jati, diri, jati diri, diri sendiri, pencarian diri

Bukan Dukuh Paruk



Pagi ini terasa berbeda,udara sejuk itu menyambut pagiku. Suara-suara daun dari pohon bambu yang bergoyang tertiup angin,mengisi ruang pendengaranku. Aroma dari tungku dapur sudah memasuki sistem pernapasanku. Sungguh pagi yang menenangkan jiwa. Berbeda dari hari kemarin dimana aku masih berada di rumahku di salah satu perumahan di kota Bandung. Di Bandung aku di bangunkan oleh suara kendaraan yang siap melaju untuk mengantar sang empunya beraktifitas. Mengantar anak ke sekolah,orang dewasa yang sibuk memulai hari nya untuk bekerja.           
“ah jelas saja berbeda,mayoritas penduduk kota bekerja di kantor atau perusahaan serta terbiasa dengan gaya hidup yang kemana-mana pakai kendaraan bermotor. Tentu saja pagi hariku di sambut suara bising kendaraan”
fikirku saat mengumpulkan nyawa sembari duduk di atas kasur agar sadar untuk bangun.
            Perjalanan yang cukup melelahkan baru saja ku tempuh. Menghabiskan waktu di jalan kira-kira 10 jam di atas bis antar provinsi. Dengan jarak lebih dari 450 km antara Bandung ke Boyolali. Untung saja ini bukan musim mudik dimana masyarakat urbanisasi akan kembali ke desa untuk berkumpul bersama keluarganya merayakan hari raya Idul Fitri. Mungkin perjalanan yang harusnya hanya 10 jam bisa menjadi 16 jam. Ini akibat dari membludaknya kendaraan di jalan,dalam waktu bersamaan yang menyebabkan kemacetan.
Mudik telah menjadi tradisi di indonesia setiap tahunnya. Aku termasuk yang terlibat di dalamnya. Meski aku dilahirkan di Bandung dan memiliki akta kelahiran Bandung,kedua orang tua ku adalah penduduk urbanisasi. Ibuku asli Boyolali dan dapat dipastikan setiap tahun kami akan melaksanakan tradisi mudik ke Boyolali.
            Biasa nya jika aku pergi ke rumah nenek ku di Boyolali,aku bersama orang tua ku.
Tapi dalam kondisi bebas seperti sekarang,aku hijrah sendiri ke Boyolali. Naik bis dengan jarak tempuh cukup jauh seorang diri adalah pengalaman pertamaku selama 17 tahun menghuni bumi. Aku baru saja lulus dari sebuah SMA.
Tujuanku pergi ke Boyolali tentunya untuk mencari pengalaman baru. Harusnya aku sudah kuliah,merasakan bangku perguruan tinggi. Tapi akibat kegagalanku dalam seleksi SNMPTN yang lalu,dunia perkuliahan itu harus aku tunda sampai tahun depan. Kurangnya persiapan cadangan adalah salah satu penyebabnya. Padahal aku sudah cukup belajar untuk menghadapi SNMPTN ini. Namun persaingan yang cukup ketat itu terjadi. Menurutku ini akibat dari pertumbuhan penduduk Indonesia yang sudah terlalu banyak. Ketidakseimbangan antara bangku yang tersedia dengan

Beda Tangan Beda Rasa

 sumber gambar   myasara.wordpress.com 
           Masakan adalah bahan makanan yang di masak. Berbagai bahan makanan yang dicampur dengan bahan makanan lain, ditambah dengan rempah-rempah dan racikan ini itu, memberikan sekaligus menciptakan cita rasa baru. Menghasilkan menu makanan yang enak untuk disantap. tapi bisa juga tidak enak. Kok bisa tidak enak? Mungkin salah mencampur bahan,tahapan pembuatan yang salah,dan yang paling sering terjadi adalah takaran yang tidak tepat. Entah takaran bumbu atau bahan utamanya yang tidak pas atau tidak seimbangnya perbandingan satu sama lain. Uniknya sebuah masakan adalah beda tangan beda rasa.Iya dalam arti sebenarnya. Meski bahan-bahannya sama,tetapi beda tangan orang yang membuat beda juga rasa masakan yang dihasilkan. its my perception.
apalagi kalau dibandingkan dengan masakan mama di rumah.hehe. ya karena terbiasa makan masakan mama,meski menunya sama tapi tetap saja kita merasa masakan mama lebih enak. aduh gimana ya kok kalimatnya pabalieut alias ngebingungin. gini deh ya kita ambil contoh aja.
sup ayam,bahan-bahannya kan ayam,wortel,kentang,kembang kol,seledri,bawang merah dan putih,garam,sedikit gula.
itu sih simpelnya yang saya tau.hehe. biar tambah enak ditambah sayuran favorit aja kali ya.
nah sup ayam buatan saya,mama,dan bude saya itu beda rasanya satu sama lain. ya itu menurut lidah saya. tapi hampir di semua jenis gitu kok, kecuali koki atau chef professional mungkin mirip-mirip ya rasanya. kan ada standard nya.


keyword: sup ayam,rasa,masakan

Copyright 2009 meriz53. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates