Berpetualanglah seluas-luasnya,menulis dan belajarlah sebanyak-banyaknya,cari pengalaman sedalam-dalamnya,bercita-citalah setinggi-tingginya,berdoa dan tawakal sesering-seringnya,kamu akan menemukan dirimu di sana

Senin, 18 Agustus 2014

Mari Perjuangkan

Setiap orang punya mimpi. Bagitupun saya. Menjadi nyatanya mimpi atau sekedar tetap jadi mimpi sebuah mimpi bergantung pada kita yang memiliki mimpi tersebut.
Terkadang memang terasa berat. Godaan untuk berhenti memperjuangkan mimpi seringkali datang di saat kita merasa lelah.
Namun yakinlah sebuah mimpi besar harus diwujudkan dengan usaha dan tekad yang besar.

Ya Allah berikanlah petunjukMu agar aku menemukan jalan menuju nyata nya sebuah mimpi, berikanlah pertolonganMu dalam setiap ujian dan tantangan yang ada. Ingatkanlah aku pada setiap nikmat yang diberikan ditengah kesulitan agar aku tetap bersyukur. Ampunilah dosaku.amin

Sabtu, 16 Agustus 2014

Medsos mu - Harimau mu

Hai blog, tiba-tiba lagi kepikiran tentang status-status di media sosial yang cukup hmmmm... Ya kurang pantas dibagikan.

Kalau dulu ada istilah mulut mu harimau mu, sepertinya sekarang sudah bergeser via media.
Jadi ingat pengalaman kurang mengenakan yang saya alami 5 tahun lalu. Saat itu facebook sedang booming, saya ada project kelas. Saat itu sedang ada masalah yang saya pun lupa kenapa. Nah alih-alih saya ngasih masukan buat semua, malah saya yang kena imbasnya menjadi bahan bully. Apalagi teman-teman saya itu mengkritisi saya di tempat yang sama yaitu di status teman saya yang tentu nya bisa di baca semua orang. Duh kacau deh... Sebagian besar memojokkan pribadi saya sebagai individu. Jadi engga ada hubungan sama project tadi. Ya dari sana jadi cukup tau deh mana kawan mana teman dan tau pandangan orang tentang saya.
Sejak saat itu saya cukup berhati-hati menuliskan kata demi kata di media sosial.

Sekarang juga agak bergeser sih status-status yang ada. Dari yang tadi nya blak-blakan tentang apa yang dirasakan, beralih ke eksistensi diri.
Kalau di pikir-pikir apa coba tujuan.kita ngeshare lokasi kita sekarang dimana, lagi apa, sama siapa. Iya kalau yang kita bagi itu teman dekat semua, kalau bukan? mungkin kepuasan pribadi juga ya... Oke sebenernya untuk yang itu tidak terlalu masalah juga, hak pribadi.
Yang gaswat ya menuliskan ketidaksukaan pada seseorang (bukan public figure). Meski pake kode-kode ya beberapa orang pasti tau. Saya agak gimana gitu kalau baca status yang seperti itu.

Kalau linked in kan bisa di bilang cv online, saya lebih suka dan beberapa kali terbantu saat screening orang untuk dijadikan pembicara, mc, dll. Linked in lebih mengarah ke personal branding bukan sekedar eksistensi.

Semakin beragam media sosial, semakin bijaklah kita menggunakannya.

Kamis, 07 Agustus 2014

Tradisi Lebaran

Hai blog.. Apa kabar? Cukup lama saya tidak posting, setelah peristiwa hilangnya laptop yang baru sebentar saya miliki dan raib begitu saja sehari sebelum pertambahan usia saya pada 5 Maret 2014. Hari ini, 26 Juli 2014, tepat di minggu penghujung Ramadhan. Saya ingin bercerita tentang tradisi lebaran di Indonesia. Lebaran khususnya lebaran hari raya Idul Fitri identik dengan silaturahmi, mudik, baju baru , ketupat, kue lebaran dan macam pernak-pernik lebaran lainnya. Namanya juga tradisi, jika tidak dijalani rasa nya ada yang kurang. Baik, kenapa saya kepikiran cerita tentang tradisi lebaran, karena kemarin saya baru saja mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Sragen, Jawa Tengah. Hampir sebagian besar orang yang berkunjung memiliki tujuan yang sama yaitu membeli pakaian baru. Ternyata euforia baju baru saat lebaran telah menjadi tradisi di Indonesia bahkan ada lagu anak-anak mengatakan baju baru alhamdulillah, dipakai di hari raya. Tak punya pun tak apa-apa masih ada baju yang lama. Ada lagi tradisi unik lebaran di Indonesia, apalagi kalau bukan mudik. Hasil penelusuran saya di internet mudik bermakna mulih ke udik, meski banyak juga pengertian lain dari mudik. Mudik yang di tayangkan di televisi memang identik dengan mudik orang-orang asli Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menetap di kota-kota besar terutama Jakarta. Saat lebaran mereka akan bermigrasi kembali ke kampung halaman untuk bertemu dengan sanak saudara. Sekian cerita saya, memang tidak menceritakannya secara detail. Tapi ya begitulah yang sedang ingin saya tulis. Selamat hari lebaran.... :)

Rabu, 19 Februari 2014

Ceritalah

Aku menghampirinya, ia sedang memandang jauh dari lantai 2 tempat kami berada saat ini. Berdiri sambil memegang pagar panghalang.
“kenapa?” tanyaku
“engga” jawabnya
“bukan mau bunuh diri kan lo?” tanyaku lagi
“ya engga lah, mati kan di tangan Tuhan. Lagian kalau aku lompat dari sini yang ada malah luka-luka. Rugi dong gue kalau emang niatan mau bunuh diri tapi gagal”
“hahahaha. Bener banget”
“gue tuh lagi bingung. Tapi bingung apa yang gue bingungin”
Aku terdiam sejenak mendengar penjelasannya. Dia sendiri saja bingung dengan apa yang di bingungkan apalagi aku.
“ah lo, bosen gue, perasaan sering banget bilang kaya gitu. Ujung-ujungnya apa? Tetep engga cerita kan?” kataku padanya
“ya udah tinggalin gue sendiri dulu aja. Gue mikir dulu apa yang gue bingungin, apa yang gue khawatirin”
“ya udah, inget jangan bunuh diri ya.hahahaha. Lagian lo tuh keseringan mikir yang engga perlu dipikirin. Gue ke dalem dulu” aku meninggalkannya. Menyelesaikan yang perlu diselesaikan.
Beberapa menit setelah aku berada di dalam terdengar isak tangis dari luar. Siapa lagi kalau bukan sahabatku yang satu itu.
“eh kenapa? Tuh kan lo suka ngagetin gue aja” aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Ia duduk di lantai.
Ia tetap diam dalam tangisnya.
“ya udah tenangin diri dulu aja. Nanti kalau pengen cerita, cerita aja engga usah sungkan. Gue yakin lo bakal cerita kalau lo merasa perlu cerita. Emang engga semua hal perlu di ceritai ke orang. Kadang ada yang perlu di pendem sendiri” paparku sambil mengelus pundaknya.

Aku rasa hanya sedikit sentuhan dan kata penenang cukup sedikit memberi kekuatan. Itu guna nya teman.

Pencapaian- Flash Fiction

     Aku berdiri dari kursi berwarna putih. Putih nya berasal dari kain yang dibalutkan untuk menutupi seluruh bagiannya. Tak tau bagaimana bentuk aslinya. Cantikkah bentuknya atau biasa saja hanya si kain yang tau. Yang kami tau dari kursi itu hanya indah. Iya, indah di pandang seperti yang biasa aku lihat di televisi saat sebuah acara di gelar di hotel mewah. Kini aku dapat merasakannya. Ku langkahkan kakiku ke depan. Berjalan menuju satu titik di atas panggung. Semua mata tertuju pada ku saat itu, aku menjadi pusat perhatian.
“Selamat atas pencapaian anda bu,sungguh luar biasa dapat melebihi target” Pa Teguh sebagai Direktur Utama perusahaan tempatku bekerja, menyalamiku mengucapkan selamat sembari memberi piagam penghargaan. Sejenak kami bertiga berfoto bersama. Aku, Pa Teguh dan kertas tanda penghargaan itu.
     Beberapa saat kemudian MC mengatakan “ tentunya dari sebuah keberhasilan seseorang ada orang di balik layar yang mendukungnya. Saya persilakan kepada Bapak Hari untuk ke depan”
Aku cukup terkejut, tak ku sangka ia hadir di sini. Terima kasih cinta. Suami sekaligus rekan dan sahabat yang selalu ada di sampingku. Mendukung sepenuh hati hingga satu lagi pencapaian dalam hidupku dapat terjadi. Menutupi kekuranganku dengan kelebihanmu. Sama seperti kain putih indah nan lembut yang menutupi kekurangan si kursi yang tidak menunjukkan kelembutannya karena sudut-sudut kursi itu.


Kamis, 23 Januari 2014

Durian di Bulan Ramadhan


        Aku sempat menuliskan kisah ini. Sayangnya tanpa sengaja aku menghilangkannya. Cerita tentang buah yang menyebalkan bagi sebagian orang karena aromanya yang terlalu menusuk dan dianggap busuk. Namun sangat dicintai kalangan lainnya karena kelezatan rasanya. Aku termasuk dalam golongan yang kedua dan aku sangat bersyukur akan hal itu karena aku bisa menikmati salah satu buah yang enak dan lembut di lidah.
        Syukurnya lagi, aku sering mendapatkan buah ini secara cuma-cuma. Mulai dari yang hambar rasanya karena buah sudah jatuh sebelum waktunya ataupun karena musim hujan sehingga rasa buah durian hilang. Atau menikmati buah durian yang dagingnya benar-benar manis dan ukurannya yang besar. Di pekarangan rumah mbah(panggilan untuk kakek saya) di salah satu daerah di Boyolali tumbuh satu pohon yang kuat dan menjulang tinggi, sebuah pohon durian. Entah bagaimana asal-usulnya sehingga pohon itu dapat tumbuh di sana. Karena aku termasuk orang yang sangat suka durian, sampai-sampai aku bercita-cita kelak aku harus memiliki setidaknya satu pohon durian di halaman belakang rumahku. Yang tentunya harus berada di halaman yang cukup luas agar pada saat berbuah nanti, buahnya akan langsung jatuh ke rumput di bawahnya tanpa harus mengenai benda-benda lain di sekitar rumah. Tidak seperti atap depan rumah mbah yang sering tertimpa durian. Dulu paling sedikit setahun sekali aku datang ke rumah mbah di desa. Saat hari raya Idul Fitri tiba. Aku sering menanti saat itu. Saat dimana semua orang mengatakan bahwa hal yang aku lakukan adalah mudik. Karena saat itu pula pohon duriannya berbuah. Entah beberapa tahun silam aku selalu mengira bahwa buah durian akan muncul setiap bulan ramadhan sampai suatu ketika saat ramadhan tiba buah durian itu tak muncul, sampai akhirnya aku bertanya mengapa buah duriannya tidak ada. Saat itu pula aku baru mengetahui bahwa ramadhan selalu berganti tanggal di kalender masehi karena penetapannya berdasarkan perhitungan kalender hijriah dan biasanya musim buah durian akan hadir setelah musim rambutan jadi belum tentu berbuah pada bulan ramadhan. Dan tahun ini di awal tahun 2014 buah durian mulai bermunculan. Selamat menikmati durian untuk anda penggemar durian. 

salam
meriza


kata kunci: durian, ramadhan